Bunga Sakura di Musim Dingin

Pernahkah melihat bunga sakura tumbuh di musim dingin? Musim dimana semua tumbuhan yang hidup menjadi memutih karena tertutup oleh salju. Musim dimana banyak orang enggan untuk keluar menikmati cuaca dan memilih untuk menetap dalam ruangan hangat. Dimana seseorang lebih memilih memandang percikan api yang menghangatkan tubuh dari pada melihat salju turun dingin hingga membeku.

Layaknya sebuah kenangan yang terus bersemayam bila terlalu lama disimpan akan menjadi membeku dan sulit untuk dicairkan. Aku ingin sebuah kehangatan yang hadir agar dapat merasakan sebuah kelegaan dalam hati yang bebas dari belenggu memori yang menyisakan dada. Menggenggam salju dalam tangan lantas membuatku mati rasa, merasakan pilu dan dinginya sampai ke seluruh tubuh.

Aku ingin bebas dari rasa sakit yang tak bisa kumengerti.
Aku ingin bebas dari rasa yang tak pernah bisa kupahami.
Aku ingin bebas dari rasa yang tak bisa kugapai.
Aku ingin merasakan kesungguhan hati yang bisa menyejukkan jiwaku.

Seperti bunga sakura, aku ingin tumbuh bersemi, indah dan menyejukkan bagi siapa saja yang memandang dengan penuh cinta dan kasih yang tulus meski di tengah-tengah musim dingin yang menusuk.

Raining Spell For Love

rain-on-the-window

Hujan. Kenangan. dan Cinta.

Saat kau teringat kenangan itu, saat kenangan itu menghampirimu, saat kenangan itu berbicara padamu, apa yang kau rasakan? apa yang akan kau katakan padanya? atau kau akan bereaksi dengan senangkah? sedih? atau bahkan marah?

Saat kenangan datang di waktu yang tepat, maka semua terasa menyakitkan. Kau tau kenapa? karena terkadang ingatan bagaikan luka yang tak tampak. Menyisakkan dada, menghancurkan rasa, dan mengacaukan pikiran bahkan hatipun dibuat tak karuan saat kenangan itu menghampiri. Rasanya seperti kau tak tau apa yang kau rasa, tapi pikiranmu terus terpaku pada hal yang tak jelas apa itu. Kau serasa sedang berada di dunia lain yang tak kau mengerti.

Rasa dimana saat pikiranmu tak menyatu dengan ragamu, saat dimana otakmu tak senada dengan hatimu. Kacau. Bagaikan angin yang menerpa pohon hingga menjatuhkan daun-daun, angin yang juga menusukan hawa dingin ke pohon hingga masuk ke cela-cela serat batang kayunya.

Rindu.

Kadang hati merindu namun pikiran ini membantahnya. Memangnya atas dasar apa rindu itu muncul? ini bukan disebut rindu, mungkin hanya kamuflase dari kenangan yang sekelebat menghampiri. Kenangan datangpun tak bisa dicegah karena mereka tinggal dalam pikiran, dalam ruang di hati yang diri ini pun tak tau sebesar apa ruangan itu. Mengapa ia tidak berminat untuk pergi dari ruangan itu dan mengapa ia selalu ada dan tak bisa hilang dari ruangan itu?

Saat hujan turun mengapa aromanya selalu mengingatkanku akan dirimu? apa bisa kau jelaskan itu padaku? Sulit dipercaya terkadang mengingat sesuatu yang membuat pikiran tak berjalan dengan benar memang sesuatu yang menyebalkan. Tetapi akupun tak bisa berbuat apa-apa.

Pada akhirnya, kenangan yang akan selalu menang. Kenangan akan selalu dan tetap tinggal hingga raga ini terpisah dari nyawa yang telah lama mendiaminya.

Aku merindukanmu.
Kenangan akan dirimu tak pernah bisa pergi dari hatiku. Ruang dalam hatiku selalu ada tempat untukmu, selama kenangan itu datang maka kau semakin mendominasi isi dalam ruang hatiku.
Kau tak akan pernah hilang dalam ingatan, hatiku bahkan dalam cintaku.