Raining Spell For Love

rain-on-the-window

Hujan. Kenangan. dan Cinta.

Saat kau teringat kenangan itu, saat kenangan itu menghampirimu, saat kenangan itu berbicara padamu, apa yang kau rasakan? apa yang akan kau katakan padanya? atau kau akan bereaksi dengan senangkah? sedih? atau bahkan marah?

Saat kenangan datang di waktu yang tepat, maka semua terasa menyakitkan. Kau tau kenapa? karena terkadang ingatan bagaikan luka yang tak tampak. Menyisakkan dada, menghancurkan rasa, dan mengacaukan pikiran bahkan hatipun dibuat tak karuan saat kenangan itu menghampiri. Rasanya seperti kau tak tau apa yang kau rasa, tapi pikiranmu terus terpaku pada hal yang tak jelas apa itu. Kau serasa sedang berada di dunia lain yang tak kau mengerti.

Rasa dimana saat pikiranmu tak menyatu dengan ragamu, saat dimana otakmu tak senada dengan hatimu. Kacau. Bagaikan angin yang menerpa pohon hingga menjatuhkan daun-daun, angin yang juga menusukan hawa dingin ke pohon hingga masuk ke cela-cela serat batang kayunya.

Rindu.

Kadang hati merindu namun pikiran ini membantahnya. Memangnya atas dasar apa rindu itu muncul? ini bukan disebut rindu, mungkin hanya kamuflase dari kenangan yang sekelebat menghampiri. Kenangan datangpun tak bisa dicegah karena mereka tinggal dalam pikiran, dalam ruang di hati yang diri ini pun tak tau sebesar apa ruangan itu. Mengapa ia tidak berminat untuk pergi dari ruangan itu dan mengapa ia selalu ada dan tak bisa hilang dari ruangan itu?

Saat hujan turun mengapa aromanya selalu mengingatkanku akan dirimu? apa bisa kau jelaskan itu padaku? Sulit dipercaya terkadang mengingat sesuatu yang membuat pikiran tak berjalan dengan benar memang sesuatu yang menyebalkan. Tetapi akupun tak bisa berbuat apa-apa.

Pada akhirnya, kenangan yang akan selalu menang. Kenangan akan selalu dan tetap tinggal hingga raga ini terpisah dari nyawa yang telah lama mendiaminya.

Aku merindukanmu.
Kenangan akan dirimu tak pernah bisa pergi dari hatiku. Ruang dalam hatiku selalu ada tempat untukmu, selama kenangan itu datang maka kau semakin mendominasi isi dalam ruang hatiku.
Kau tak akan pernah hilang dalam ingatan, hatiku bahkan dalam cintaku.

Walkin Alone

Menelusuri jalan yang tak tentu arah, mencari secercah harapan dengan hadirnya dirimu. Menanti datangnya kembali cinta yang mulai mengering. Menata kembali hati yang telah rapuh. Menguatkan diri untuk menatap ke atas, menerima cahaya pilu yang merasuk ke jiwa.

“Rasa sakit ini seperti pisau dengan racun, yang tak bisa di tarik di mana ia menancap. Kau tau, racun itu seolah menyebar ke seluruh tubuhku. Menghancurkanku secara perlahan.”

Menangis. Ia menangis tanpa suara, dengan terus berjalan menelusuri jalan yang biasa di lewati dengan senyum lebar seperti bunga sakura di musim semi, yang sedang bermekaran, ceria, indah dan cantik. Bulir-bulir kecil tetap mengalir tanpa bisa ia hentikan. Hatinya terlalu sakit.

Di bawah pohon maple yang menjatuhkan daun-daun indah, ia berhenti. Menatap pohon yang menguning itu dengan nanar, seolah teringat kenangan menyakitkan dengan pohon tersebut.

Ia mengusap permukaan batang pohon itu dengan lembut, berusaha tegar tak menangis. Membuat pertahanan untuk dirinya agar tidak rapuh. Sakit yang dirasa kini semakin menjadi saat angin yang berhembus menerpa dirinya. Menyibak daun-daun kering yang menutupi kakinya. Mencoba berlutut dan mengusap permukaan akar, mencari sesuatu disana.

“Rasa cinta dan sayang itu tidak akan hilang meski kita tak berada di tempat yang sama, meski kita terpisah oleh waktu, meski kita terpisah karena takdir. Namun akhirnya rasa itu tetap tinggal dalam hati. Hati terdalam.”

Di peluknya kotak kecil dengan secarik kertas yang membuat dirinya terisak lebih dalam, lebih deras dengan deraian air mata. Ia rapuh, ia runtuh dengan kata-kata yang menyesakkan dadanya. Perasaannya hancur, lebih hancur dari sebelumnya.

“Aku merindukanmu, diendra. Sangat merindukanmu.”

Wanita yang berbisik dengan deraian air mata itu terduduk, memejamkan mata mengingat kenangannya dengan diendra. Diendra telah pergi, pergi ke tempat yang jauh, yang tak bisa ia jangkau, yang tak bisa ia raih.

Diendra pergi selamanya. Diendra di surga.