Bisakah Membuka Hati?

Setiap orang pasti memiliki fase hidup yang berbeda, layaknya rasa pada coffee yang memiliki beragam rasa dengan cara penyajian yang berbeda. Dalam membuat secangkir coffee memiliki teknik yang berbeda untuk mendapatkan berbagai macam rasa, namun tetap satu bahan utama yang digunakan, yaitu biji coffee yang sama.

Aku tak mengerti, kenapa rasanya pahit sekali. Terkadang aku bertanya pada diriku sendiri, memangnya bisa menyukai sesuatu tanpa kau bosan dengan sesuatu itu? Apakah bisa akan terus menyukainya jika tau bahwa ada yang tak kau sukai meski hanya satu hal saja?

Rasa coffee itu pahit, meski tak semuanya pahit dengan tambahan rasa gula untuk pemanis. Tapi tetap saja hampir semua orang menyukainya. Seperti kecanduan dari aromanya yang begitu menggoda.

Sama halnya dengan rasa cinta. Apa kau akan tetap jatuh cinta meski tau ada hal yang tak kau sukai darinya? Apakah kau tak akan pernah bosan dengannya meski untuk waktu yang lama? Bisakah kau memeberikan alasan yang tepat?

Meski kau terluka, meski kau merasakan kesedihan, dan meski kau merasa kecewa kau tetap menyukainya? Apa kau tak merasa cukup hanya sampai disini saja, dan tak akan masuk ke lubang yang sama? Tidakkah kau berpikir untuk lebih baik mengubur rasa itu dan menghilang layaknya angin?

Sungguh… itu sangat sulit dan menyakitkan.

 

Advertisements

Raining Spell For Love

rain-on-the-window

Hujan. Kenangan. dan Cinta.

Saat kau teringat kenangan itu, saat kenangan itu menghampirimu, saat kenangan itu berbicara padamu, apa yang kau rasakan? apa yang akan kau katakan padanya? atau kau akan bereaksi dengan senangkah? sedih? atau bahkan marah?

Saat kenangan datang di waktu yang tepat, maka semua terasa menyakitkan. Kau tau kenapa? karena terkadang ingatan bagaikan luka yang tak tampak. Menyisakkan dada, menghancurkan rasa, dan mengacaukan pikiran bahkan hatipun dibuat tak karuan saat kenangan itu menghampiri. Rasanya seperti kau tak tau apa yang kau rasa, tapi pikiranmu terus terpaku pada hal yang tak jelas apa itu. Kau serasa sedang berada di dunia lain yang tak kau mengerti.

Rasa dimana saat pikiranmu tak menyatu dengan ragamu, saat dimana otakmu tak senada dengan hatimu. Kacau. Bagaikan angin yang menerpa pohon hingga menjatuhkan daun-daun, angin yang juga menusukan hawa dingin ke pohon hingga masuk ke cela-cela serat batang kayunya.

Rindu.

Kadang hati merindu namun pikiran ini membantahnya. Memangnya atas dasar apa rindu itu muncul? ini bukan disebut rindu, mungkin hanya kamuflase dari kenangan yang sekelebat menghampiri. Kenangan datangpun tak bisa dicegah karena mereka tinggal dalam pikiran, dalam ruang di hati yang diri ini pun tak tau sebesar apa ruangan itu. Mengapa ia tidak berminat untuk pergi dari ruangan itu dan mengapa ia selalu ada dan tak bisa hilang dari ruangan itu?

Saat hujan turun mengapa aromanya selalu mengingatkanku akan dirimu? apa bisa kau jelaskan itu padaku? Sulit dipercaya terkadang mengingat sesuatu yang membuat pikiran tak berjalan dengan benar memang sesuatu yang menyebalkan. Tetapi akupun tak bisa berbuat apa-apa.

Pada akhirnya, kenangan yang akan selalu menang. Kenangan akan selalu dan tetap tinggal hingga raga ini terpisah dari nyawa yang telah lama mendiaminya.

Aku merindukanmu.
Kenangan akan dirimu tak pernah bisa pergi dari hatiku. Ruang dalam hatiku selalu ada tempat untukmu, selama kenangan itu datang maka kau semakin mendominasi isi dalam ruang hatiku.
Kau tak akan pernah hilang dalam ingatan, hatiku bahkan dalam cintaku.