Walkin Alone

Menelusuri jalan yang tak tentu arah, mencari secercah harapan dengan hadirnya dirimu. Menanti datangnya kembali cinta yang mulai mengering. Menata kembali hati yang telah rapuh. Menguatkan diri untuk menatap ke atas, menerima cahaya pilu yang merasuk ke jiwa.

“Rasa sakit ini seperti pisau dengan racun, yang tak bisa di tarik di mana ia menancap. Kau tau, racun itu seolah menyebar ke seluruh tubuhku. Menghancurkanku secara perlahan.”

Menangis. Ia menangis tanpa suara, dengan terus berjalan menelusuri jalan yang biasa di lewati dengan senyum lebar seperti bunga sakura di musim semi, yang sedang bermekaran, ceria, indah dan cantik. Bulir-bulir kecil tetap mengalir tanpa bisa ia hentikan. Hatinya terlalu sakit.

Di bawah pohon maple yang menjatuhkan daun-daun indah, ia berhenti. Menatap pohon yang menguning itu dengan nanar, seolah teringat kenangan menyakitkan dengan pohon tersebut.

Ia mengusap permukaan batang pohon itu dengan lembut, berusaha tegar tak menangis. Membuat pertahanan untuk dirinya agar tidak rapuh. Sakit yang dirasa kini semakin menjadi saat angin yang berhembus menerpa dirinya. Menyibak daun-daun kering yang menutupi kakinya. Mencoba berlutut dan mengusap permukaan akar, mencari sesuatu disana.

“Rasa cinta dan sayang itu tidak akan hilang meski kita tak berada di tempat yang sama, meski kita terpisah oleh waktu, meski kita terpisah karena takdir. Namun akhirnya rasa itu tetap tinggal dalam hati. Hati terdalam.”

Di peluknya kotak kecil dengan secarik kertas yang membuat dirinya terisak lebih dalam, lebih deras dengan deraian air mata. Ia rapuh, ia runtuh dengan kata-kata yang menyesakkan dadanya. Perasaannya hancur, lebih hancur dari sebelumnya.

“Aku merindukanmu, diendra. Sangat merindukanmu.”

Wanita yang berbisik dengan deraian air mata itu terduduk, memejamkan mata mengingat kenangannya dengan diendra. Diendra telah pergi, pergi ke tempat yang jauh, yang tak bisa ia jangkau, yang tak bisa ia raih.

Diendra pergi selamanya. Diendra di surga.

Rintik-Rintik Kenangan

Hujan. Banyak orang mengeluhkan dengan datangnya hujan, merutuki hujan yang menghambat sebagian kegiatan mereka yang di landa kesibukan. Namun juga ada yang mengatakan bahwa hujan itu anugrah, hujan itu sebuah rahmat. Sebuah hal yang menyenangkan untuk membuat pikiran menjadi lebih tenang.

Lalu hujan itu sebenarnya apa?

Hujan. Sebuah kalimat yang meneduhkan, membuatnya yang mendengar kata ini seperti pergi dalam dunia yang tak bisa di tembus dengan waktu. Layaknya masa lalu, saat hujan turun maka seluruh permukaan bumi akan basah, lembab bahkan menyesap dingin bagi makhluk hidup di bumi.

Hujan bagai kenangan yang menyeruak. Saat awan mendung mulai terlihat, saat itu juga kenangan seperti mulai datang. Saat rintik itu telah jatuh, saat itu juga kenangan datang. Tak bisa di hentikan. Tak bisa di cegah.

Lantas harus bagaimana?

Meresapi kenangan, merangkul kenangan itu dengan senyum yang seolah berkata “aku hidup di dunia yang sekarang, kau hanyalah sebuah cerita di masa lalu”.

Saat hujan melanda, rasa dingin mulai merasuki jiwa. Saat itulah kenangan merangkul, kembali dengan memori-memori yang menyesakkan dada.

Saat hujan mulai mereda, rasa lembab mulai naik ke permukaan. Saat itulah kenangan mulai memahami dirinya, bahwa ia adalah memori di masa lalu yang menjadi sebuah sejarah berharga.

Saat hujan berhenti, rasa sejuk yang akan menghampiri. Saat itulah kenangan menyadari bahwa ia memahami dan telah belajar untuk lebih tegar. Tegar menghadapi waktu saat ini. Belajar memahami dan menatap masa depan dengan tangan yang terbuka dan hati yang hangat.

Kenangan memeluk hangat waktu saat ini dan berharap masa depan akan lebih baik dari dirinya. “aku tau kau akan lebih kuat dengan masa depan, untuk itu tersenyumlah. Aku akan bahagia melihat kau selalu tersenyum.”

Saat itulah kenangan bersahabat dengan masa depan untuk membuat waktu saat ini menjadi lebih bahagia, karena masa depan mampu mengubah waktu saat ini kelak akan lebih baik.